Feeds:
Pos
Komentar

SEJAK Duek Pakat Inong Aceh (DPIA) I pada 2000, gerakan perempuan Aceh telah memulai tonggak sejarah baru dalam memperjuangkan hak-haknya. Perempuan Aceh telah menjadi inspirasi atas disahkannya kuota 30% kursi perempuan dalam parlemen secara nasional dan penyelesaian konflik Aceh secara damai di meja perundingan. Kedua capaian ini menjadi catatan penting untuk melihat bagaimana perjalanan gerakan perempuan Aceh selama lebih dari satu dekade itu.

DPIA memandatkan kepada gerakan perempuan Aceh memberi perhatian pada tiga isu utama, yaitu syariat Islam, pemenuhan hak korban, dan keterlibatan perempuan dalam politik. Tulisan ini mencoba  menganalisa bagaimana posisi perakan perempuan Aceh di tengah sekian banyak persoalan yang masih menyudutkan posisi perempuan.

Kesadaran perempuan Aceh terhadap isu-isu sentral di Aceh seperti penegakan syariat Islam, kekerasan atas nama agama dan konflik sumber daya alam menuntut perempuan Aceh untuk mempersiapkan model strategi, kekuatan serta sinergi yang lebih luas dan matang. 

Perkembangan menarik terkait DPIA adalah terjadinya transformasi sosial yang melibatkan hampir seluruh komponen perempuan di Aceh. Mulai dari DPIA I pada 2000, DPIA II pada 2005 hingga DPIA III pada 2011. Gerakan perempuan Aceh yang semula hanya terdiri dari organisasi perempuan, organisasi masyarakat, komunitas akar rumput, organisasi agama, pemerintah, meluas dan merangkul hampir seluruh elemen masyarakat perempuan Aceh bahkan ke level individu. 

 Jalan di tempat
Pascarehab-rekon, terjadi penurunan aktifitas program berbagai organisasi nonpemerintah (LSM) perempuan sebagai akibat langsung dari menurunnya konsentrasi dukungan finansial dari para donor, yang sedikit banyak berpengaruh terhadap kerja-kerja pengembangan kemasyarakatan dan advokasi terhadap persoalan perempuan. Di samping juga dukungan pemerintah, terkait pemenuhan hak-hak perempuan sampai saat ini juga masih jalan di tempat. 

Namun komunitas akar rumput yang berada di gampong-gampong justru menjadi pilar yang menyokong gerakan perempuan Aceh dan tetap terus bergerak mendorong partisipasi perempuan dalam mempengaruhi penetapan kebijakan maupun dalam kegiatan-kegiatan strategis demi memastikan keterwakilan perempuan dan pemenuhan hak-haknya.

Meluasnya kesadaran partisipasi perempuan di ranah publik ini memunculkan sekian banyak tantangan yang bermuara pada dua isu penting, yaitu syariat Islam dan politik. Dari sisi hambatan finansial dan regulasi, perempuan nyaris tidak menemui kendala dalam mengaktualisasikan diri, tetapi tidak dengan hambatan kultural. Perempuan-perempuan yang memiliki potensi memimpin dan pengambil kebijakan, lagi-lagi masih ‘dicekal’ dengan stigma bahwa perempuan belum boleh memimpin. 

Demikian juga halnya dengan stigma bagi beban dan peran di wilayah domestik. Terkait bagi beban antara laki-laki dengan perempuan, di beberapa kabupaten di Aceh perempuan selain bekerja di sawah mereka juga harus mengerjakan pekerjaan rumah, dan ini termasuk persoalan perempuan yang paling klasik secara budaya. Bagi peran di wilayah domestik belum merupakan hasil perundingan, tetapi masih konstruksi budaya turun temurun. Sehingga kritik atas budaya ini masih perlu didiskusikan untuk melihat apakah tradisi ini dipaksakan kepada perempuan atau sudah merupakan kesepakatan berbagi peran antara laki-laki dengan perempuan. 

Gerakan perempuan Aceh tidak boleh terjebak untuk mengukur keberhasilan gerakannya dengan banyaknya perempuan yang pergi ke wilayah publik. Karena tidak mungkin menafikan bahwa peran-peran domestik perempuan signifikan, sehingga keberhasilan para ibu yang mendidik anak-anak dan mengayomi keluarga di rumah sebagai bagian terpenting pembangunan peradaban suatu bangsa. Dan ini harus mendapat nilai yang sepadan jika dibandingkan dengan keberhasilan gerakan perempuan Aceh dari sisi banyaknya jumlah perempuan yang menjadi tuha peut, camat, anggota legislatif atau wali kota.

 Refleksi kesadaran
Ketika perempuan Aceh melakukan gerakan, sangat kuat refleksi kesadaran bahwa ini adalah gerakan politik yang membawa seluruh aspirasi masyarakat perempuan Aceh dan diperjuangkan oleh seluruh komponen perempuan Aceh. Tidak hanya organisasi baik LSM perempuan atau organisasi perempuan lainnya, tapi juga secara individu. Sehingga refleksi yang dilakukan menjadi refleksi yang mampu mentransformasi setiap perubahan yang telah dilakukan selama ini. 

Salah satu yang sangat terlihat adalah bagaimana keterlibatan penuh gerakan perempuan Aceh dalam Jaringan Masyarakat Sipil Peduli Syariat (JMSPS) memperbaiki konsep syariat Islam di Aceh. Mereka bukan lagi berada pada posisi sekadar anti dan tolak syariat Islam, namun sudah sampai kepada tahapan bagaimana merumuskan konsep syariat Islam dengan alat ukur Islam humanis untuk menilai praktek pemerintahan yang Islami dan penerapan Islam yang humanis di Aceh yang tidak melulu mengatur urusan perempuan. Hal ini merupakan perubahan yang sangat fundamental bagi perakan perempuan Aceh.

Refleksi-refleksi ini didorong oleh kesadaran yang kuat bahwa Aceh memiliki karakter kebudayaannya sendiri. Sejalan dengan itu paradigmatis gerakan perempuan Aceh sejatinya memiliki karakter yang identik dan membumi dengan konteks Aceh, sehingga gerakan perempuan Aceh tidak bisa menghindar dari mendiskusikan konsep syariat Islam yang mengejawantah dalam adat di Aceh dan hal-hal lain yang berkaitan dengannya.

Gerakan Perempuan Aceh harus menyikapi secara serius skema perubahan terkait dukungan dunia luar terhadap persoalan Aceh baik secara ekonomi maupun politik. Gerakan Perempuan Aceh tidak boleh tidak harus membangun kekuatan dari dalam baik dari sisi mendorong memperkuat masing-masing organisasi perempuan maupun komunitas akar rumput dengan semangat swadaya maupun menumbuhkan kekuatan fundrising yang akan membangun kemandirian dari sekian banyak organisasi perempuan yang memiliki kelompok-kelompok dampingan di berbagai daerah di Aceh. Selain juga membangun model kaderisasi yang terstruktur.

Dalam menyikapi isu partisipasi perempuan dalam politik, penting untuk digarisbawahi bahwa gerakan perempuan Aceh harus memiliki peta yang akurat, terkait siapa saja yang akan mempersiapkan diri menjadi calon legislatif. Perempuan Aceh harus kembali menduduki posisi pengambil keputusan dan tidak boleh berpuas diri dengan meningkatnya jumlah perempuan di kursi legislatif yang memperjuangkan kepentingan partainya. 

 Strategi massif
Gerakan perempuan Aceh harus membangun strategi massif, koordinasi dan mempersiapkan kader yang dipastikan akan memperjuangkan kepentingan perempuan dan rekomendasi DPIA, serta isu strategis lainnya dalam setiap pengambilan keputusan strategis di level legislatif maupun partai. Demikian pula dalam merumuskan indikator keberhasilan, hendaknya gerakan perempuan Aceh menjadikan kekhasan Aceh dalam hal adat dan syariat Islam sebagai satu kesatuan kultur identitas Aceh. 

Terakhir, gerakan perempuan Aceh harus tetap pada titahnya yaitu menjadi energi bagi perubahan Aceh, menuju terwujudnya Aceh baru yang berkeadilan, damai, bermartabat dan sejahtera dengan kebijakan yang berpihak pada perempuan melalui proses partisipasi politik perempuan di berbagai level dan membangun konsep pendidikan yang adil gender. 

(Annisa Mutia Mutmainnah, Serambi Indonesia, Opini, 11 Maret 2013)

Muqqadimah : Bersinggungan dengan Islam (part 1)
Seorang teman lama mengatakan kepadaku “ orang akan ditandai kecendrungan minat, spesialisasi pekerjaan/skill, dan kemungkinannya untuk menjadi orang sukses apabila di usia 30 ia telah merintis jalan itu melalui kerja-kerja nyata yang terpublikasi dengan baik dan dimanfaatkan oleh orang banyak”.

Bagian pertama dari tulisan ini hanya menampilkan sedikit dari ingatanku yang menonjol tentang persinggunganku dengan Islam. Tulisan ini adalah bentuk dedikasiku di usiaku yang sudah 30 tahun, dimana aku masih belum melakukan hal-hal yang luar biasa. Apa yang ku lakukan baik bagi diri sendiri, keluarga maupun masyarakat belumlah berarti apa-apa. Padahal mestinya aku sudah bisa membahagiakan orang-orang yang ku kasihi
Baiklah, aku akan mencoba mengingat masa kecilku. Ketika itu suara adzan adalah hal yang biasa bagiku. Aku mendengarnya lima kali sehari dari mesjid di komplek dimana aku tinggal yang jarak nya hanya 100 meter dari rumahku. Lingkungan sekitar rumahku memang mayoritas muslim. Hanya 4 dari lebih kurang 100 keluarga di komplek tempat keluargaku tinggal yang beragama Kristen. Dan hanya keluargaku satu-satunya yang penganut Katholik.
Meskipun begitu , aku, yang sejak kanak-kanak bergaul dengan teman-teman muslim tidak merasa dipinggirkan. Waktu aku kelas 4 SD, aku pernah didaulat menyanyi di depan kelas. Dan anehnya lagu yang kubawakan justru lagu yang bernuansa Islami, judulnya “Kusadari”. Lagu ini belakangan sempat dipopulerkan kembali oleh kelompok band papan atas “Gigi”. Liriknya kira-kira begini:
>>Kusadari akhirnya… Kau tiada duanya
Tempat memohon beraneka pintah
Tempat berlindung dari segala mara bahaya
>>Oh Tuhan, mohon ampun atas dosa dan dosa slama ini
Aku tak memperdulikan pintah-Mu
Tak penuhi panggilan-Mu
Tenggelam melupakan diri-Mu
……………………………………………………


Aku menyanyikannya dengan penuh penghayatan hingga waktu itu aku ingat sekali aku sampai menangis sesenggukan dan ibu guruku yang cantik, ibu Linda, namanya, ia memelukku penuh haru. Lebih aneh lagi waktu aku kelas 5 SD. Saat itu menjelang perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad saw di sekolah ku SD Negeri 3 Perbaungan. Teman-temanku panitia Maulidan kompak menyuruhku untuk menulis sebuah puisi bertemakan Maulid Nabi (bersambung)

(Tulisan ini adalah Paper Final Mata Kuliah Metodologi Kajian Islam yang diasuh oleh Bapak Prof. Hasbi Amiruddin pada Semester Satu Jurusan Ekonomi Islam PPS IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, September 2012 – Februari 2013, dengan beberapa perubahan)

Fazlur Rahman memandang Al-Qur’an sebagai landasan bagi perumusan metodologi tafsirnya. Bahwa Al-Qur’an itu adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad saw, dan karenanya  wahyu dari Al-Qur’an memiliki kemapanan karakter yang sangat kokoh. Seperti tulisan Rahman dalam Islam:

“Bagi Al-Qur’an sendiri, dan konsekwensinya juga  bagi kaum muslimin, Al-Qur’an adalah kalam Allah. Muhammad juga dengan tegas meyakinai bahwa ia adalah penerima risalah dari Tuhan, yang sepenuhnya lain, demikian hebatnya, hingga ia menolak—atas dasar kuatnya keyakinan ini—beberapa klaim mendasar dari tradisi Yudeo-Kristiani mengenai Ibrahim dan nabi-nabi lainnya.”

Konsepsi Fazlur Rahmam mengenai Al-Qur’an  secara sederhana dapat dijabarkan ke dalam butir-butir  sebagai berikut:

1.   Al-Qur’an secara keseluruhannya adalah kalam Allah, dan dalam pengertian biasa, juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad.

2.   Al-Qur’an adalah respon ilahi, melalui ingatan dan pikiran nabi, terhadap situasi moral-sosial arab pada masa nabi, khususnya kepada masalah-masalah masyarakat dagang makkah pada waktu itu.

  1. Karenanya, semangat atau elan vital  Al-Qur’an adalah semangat moral, darimana ia menekankan monoteisme dan keadilan sosial.
  2. Al-Qur’an terutama sekali adalah sebuah prinsip-prinsip dan seruan-seruan keagamaan serta moral, bukan sebuah dokumen legal. karenanya, keabadian kandungan legal spesifik Al-Qur’an terletak pada prinsip-prinsip moral yang mendasarinya, bukan pada ketentuan-ketentuan harfiahnya.

5. Al-Quran merupakan sosok ajaran yang koheren dan kohesif. Kepastian pemahaman tidaklah terletak pada arti dari ayat-ayat individual Al-Qur’an, tetapi terdapat pada Al-Qur,an secara keseluruhan, yakni suatu satu set prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang koheren di mana keseluruhan ajarannya bertumpu.

6.  Al-Qur’an adalah dokumen untuk manusia, bukan risalah mengenai Tuhan. Perhatian utama Al-Qur’an adalah perilaku manusia. Karenanya ia lebih berorientasi pada aksi moral ketimbang spekulasi intelektual.

7. Tetapi, di atas segalanya, Al-Qur’an itu laksana puncak gunung es yang terapung: sembilan sepersepuluh darinya terendam di bawah permukaan air sejarah dan hanya sepersepuluh darinya yang tampak ke permukaan. Tidak satupun dari orang-orang yang telah serius berupaya memahami Al-Qur’an dapat menolak kenyataan bahwa sebagian  besar Al-Qur’an mensyaratkan pengetahuan mengenai situasi-situasi kesejarahan yang baginya pernyataan-pernyataan Al-Qur’an memberikan solusi-solusi, komentar-komentar dan respon.

Sampai pada titik ini, Rahman menandaskan bahwa tujuan ideal-moral Al-Qur’an yang merupakan elan vitalnya itu telah terkubur  dalam endapan geologis sebagai akibat dari proses reifikasi yang begitu panjang.  Hal ini merupakan  harga yang harus dibayar (cost) dari perluasan wilayah Islam yang terlalu cepat, tanpa diimbangi infrastruktur tingkat pemahaman keagamaan yang memadai. Karena itu, metodologi yang diharapkan adalah metodologi yang, tentu saja, bisa menembus endapan  sejarah tersebut sampai lapisan terdalam.

Dengan demikian,  dapat pahami bahwa tujuan metodologi tafsir bagi Rahman  adalah  untuk  menangkap  kembali  pesan  moral universal Al-Qur’an yang obyektif itu, dengan cara membiarkan Al-Qur’an berbicara sendiri, tanpa ada paksaan dari luar dirinya, untuk kemudian diterapkan pada realitas kekinian. Misalnya, dalam masalah hukum, bagi Rahman, tujuan tafsirnya adalah untuk menangkap resiones logis yang berada di balik pernyataan formal Al-Qur’an. Untuk inilah Rahman sering menyebut-nyebut kasus ijtihad Umar bin Khaththab yang dinilainya sebagai preseden baik (uswah) untuk mengeneralisasikan prinsip-prinsip dan nilai-nilai umum yang berada di bawah permukaan Sunah dan bahkan teks Al-Qur’an.

Metodologi Tafsir Fazlur Rahman

Metodologi tafsir Fazlur Rahman tidak bisa lepas dari agenda pembaruan sebelumnya. Karenanya, ada baiknya dikemukakan terlebih dahulu pandangannya mengenai dialektika perkembangan pembaruan yang muncul dalam dunia  Islam. Rahman membagi gerakan pembaruan  ke dalam empat gerakan. Gerakan pertama adalah revivalisme pra modernis yang lahir pada abad ke 18 dan 19 di Arabia, India dan Afrika. Gerakan ini muncul secara orisinal dari dunia Islam, bukan merupakan reaksi terhadap barat. Gerakan ini secara sederhana mempunyai ciri-ciri umum: (a) keprihatinan yang mendalam terhadap degenarasi sosio-moral umat Islam; (b) imbauan untuk kembali kepada Islam yang sebenarnya, dengan memberantas takhayul-takhayul dan dengan  membuka dan melaksanakan ijtihad; (c) imbauan untuk membuang sikap fatalisme; dan (d) imbauan untuk melaksanakan pembaruan ini lewat jihad jika diperlukan.

Menurut Rahman, dasar pembaruan revivalisme pramodernis ini kemudian dikembangkan oleh gerakan kedua, modernisme klasik, yang muncul pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 di bawah pengaruh ide-ide barat. Pengembangannya terletak pada usaha gerakan ini untuk memperluas isi ijtihad—dan juga agenda gerakan—seperti isu tentang hubungan akal dan wahyu, pembaruan sosial terutama  pada bidang pendidikan dan status wanita, pembaruan politik untuk membetuk pemerintahan yang representatif dan konstitusional. Jasa modernisme klasik ini adalah usahanya untuk menciptakan hubungan harmonis antara pranata-pranata barat dengan tradisi Islam dalam kacamata Al-Qur’an dan sunnah. Hanya saja,  penafsiran mereka terhadap Qur’an dan sunnah ini tidak ditopang dengan metodologi yang memadai. Mereka lebih banyak mengadopsi isu-isu dari barat dan membungkusnya dengan bahasa “Qur’an”. Akibatnya, gerakan ini samasekali tidak bisa lepas dari kesan barat sentris, atau bahkan dari tuduhan sebagai gerakan  antek-antek barat yang ingin merusak Islam, bak kanker, dari dalam dunia Islam sendiri.

Reaksi terhadap modernisme klasik ini adalah gerakan ketiga, yakni neorevivalisme atau revivalisme pascamodernis, yang memandang bahwa Islam itu mencakup segala aspek kehidupan manusia, baik individual maupun kelompok. Pandangan ini mirip dengan basis pemikiran modernisme klasik. Namun karena sifatnya yang reaksioner, ingin membedakan dirinya dengan barat, gerakan ini cenderung menutup diri, apologetis dan tidak otentik.

Di sela-sela pengaruh neorevivalisme inilah gerakan neomodernis muncul, dan Rahman mengaku dirinya sebagai juru bicara gerakan ini. Bagi Rahman, ada dua kelemahan mendasar modrnisme klasik ini yang menyebabkan timbulnya reaksi dari neorevivalisme.Pertama, karena sifatnya yang kontroversialis-apologetis terhadap barat, gerakan ini tidak mampu melakukan interpretasi yang sistematis dan menyeluruh terhadap Islam. Akibatnya, penafsiran mereka terhadap Al-Qur’an lebih bersifat ad hoc dan parsial. Kedua, isu-isu yang mereka angkat berasal dari dan dalam dunia barat sehingga ada kesa kuat bahwa mereka terbaratkan atau agen westernisasi.

Menurut Rahman, neomodernisme harus mengembangkan sikap kritis baik terhadap barat maupun terhadap khazanah klasik warisan Islam.  Dalam konteks inilah ia mengatakan bahwa tugas yang paling mendasar dari kalangan neomodernisme ini adalah mengembangkan suatu metodologi yang tepat dan logis untuk mempelajari al-Qur’an guna mendapatkan petunjuk bagi masa depannya. Dengan metodologi ini Rahman menjanjikan bahwa metodologi yang ditawarkannya dapat menghindari pertumbuhan ijtihad yang liar dan sewenang-wenang, sebagaimana yang terjadi sebelumnya.

Double Movement (Metode Gerakan Ganda)

Metodologi tafsir Fazlur Rahman merupakan gerakan ganda (bolak-balik). Methode yang pertama dari dua gerakan ini terdiri dari dua langkah. Pertama, memahami arti atau  makna  suatu  pernyataan  Al-Qur’an,  dengan  mengkaji  situasi  atau problem historis dari mana jawaban dan respon Al-Qur’an muncul. Mengetahui makna spesifik  dalam sinaran latar belakang spesifiknya, tentu saja, menurut Rahman juga harus ditopang dengan  suatu kajian mengenai situasi makro dalam batasan-batasan agama, masyarakat, adat-istiadat dan lembaga-lembaga, serta mengenai kehidupan menyeluruh Arab pada saat Islam datang. Langkah kedua dari gerakan pertama ini adalah menggeneralisasikan dari jawaban-jawaban spesifik, pernyataan-pernyataan yang memiliki tujuan-tujuan moral-sosial umum, yang dapat disarikan dari ayat-ayat spesifik dengan sinaran latar belakang historis dan rationes logis  yang juga kerap dinyatakan oleh ayat sendiri. Yang harus diperhatikan selama langkah ini adalah ajaran Al-Qur’an sebagai keseluruhan, sehingga setiap arti yang ditarik, setiap hukum yang disimpulkan dan setiap tujuan yang dirumuskan koheren satu sama lain. Ini sesuai dengan klaim Al-Qur’an sendiri bahwa ajarannya tidak mengandung kontradiksi-dalam dan koheren secara keseluruhan.  Langkah ini juga bisa dan selayaknya dibantu oleh pelacakan terhadap pandangan-pandangan kaum muslim awal. Menurut Rahman, sampai sekarang sedikit sekali usaha yang dilakukan untuk memahami Al-Qur’an secara keseluruhan.

Bila gerakan yang pertama  mulai dari hal-hal yang spesifik lalu ditarik menjadi prinsip-prinsip umum dan nilai-nilai moral jangka panjang, maka gerakan kedua ditempuh dari prinsip umum ke pandangan spesifik yang harus dirumuskan dan direalisasikan ke dalam kehidupan sekarang. Gerakan kedua ini mengandaikan adanya kajian yang cermat atas situasi sekarang sehingga situasi sekarang bisa dinilai dan dirubah sesuai dengan priortitas-prioritas moral tersebut. Apabila kedua momen gerakan ini ditempuh secara mulus, maka perintah Al-Qur’an akan menjadi hidup dan efektif kembali. Bila yang pertama merupakan tugas para ahli sejarah, maka dalam pelaksanan gerakan kedua, instrumentalis sosial muthlak diperlukan, meskipun kerja rekayasa etis yang sebenarnya dalah kerja ahli etika.

Momen gerakan kedua ini juga berfungsi sebagai alat koreksi terhadap momen pertama, yakni terhadap hasil-hasil dari penafsiran. Apabila hasil-hasil pemahaman gagal diaplikasikan sekarang, maka tentunya telah terjadi kegagalan baik dalam memahami Al-Qur’an maupun dalam memahami situasi sekarang. Sebab, tidak mungkin bahwa sesuatu yang dulunya bisa dan sungguh-sungguh telah direalisasikan ke dalam tatanan spesifik di masa lampau, dalam konteks sekarang tidak bisa.

Gerakan  ganda ini, digambarkan oleh Taufik Andnan Amal dengan tiga langkah metodologis utama: (a) pendekatan historis untuk menemukan makna teks al-Quran dalam bentangan karir dan perjuangan nabi; (b) pembedaan antara ketetakpan legal dan tujuan Al-Quran; (c) pemahaman dan penetapan sasaran Al-Qur’an  dengan memperhatikan sepenuhnya latar sosiologis.  Berkaitan dengan butir pertama, Rahman mengungkapkan:

Suatu pendekatan historis yang serius dan jujur harus digunakan untuk menemukan makna teks Al-Qur’an…Pertama-tama, Al-Qur’an harus dipelajari dalam tatanan historisnya. Mengawali dengan  pemeriksaan terhadap bagian-bagian wahyu paling awal akan memberikan suatu persepsi yang cukup akurat mengenai dorongan dasar gerakan Islam, sebagaimana dibedakan dari pranata-pranata yang dibangun belakangan. Dan demikianlah, seseorang harus mengikuti bentangan Al-Qur’an sepanjang karir dan perjuangan Nabi Muhammad saw. Metode ini akan menunjukkan secara jelas makna keseluruhan Al-Quran dalam suatu cara yang sistematis dan koheren.

Mengenai  pembedaan antara ketetapan legal dan tujuan moral Al-Qur’an, Rahman menulis:

“Kemudian seseorang telah siap untuk membedakan antara ketetapan legal dan sasaran Al-Qur’an, dimana hukum diharapkan mengabdi kepadanya. Di sekali lagi seseorang berhadapan dengan bahaya subyektivitas, tetapi hal ini dapat direduksi seminimum mungkin dengan menggunakan Al-Qur’an itu sendiri. Sudah terlalu sering diabaikan baik oleh kalangan non-muslim maupun muslim sendiri bahwa Al-Quran biasanya memberikan alasan-alasan bagi pernyataan-pernyataan legal spesifiknya.”

Metode gerakan ganda ini kemudian menjadi salah satu komponen metode konstruksi  hermeneutik dalam mendorong penafsiran yang mempertimbangkan ketiga aspek teriadik yaitu teks, penafsir dan pembaca/audience-nya dalam memahami Al-Quran.

Daftar Bacaan:

Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qur’ani, Yokyakarta: Qalam, 2002

Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas: tentang Transformasi Intelektual, terj. Ahsin Muhammad, Bandung: Pustaka, 2002

______, Tema-Tema Pokok Al-Quran, terj. Anas Mahyuddin dari judul asli Major Themes of The Quran, Bandung: Mizan, 1983

Islah Gusmian, Khazanah Tafsir Indonesia; dari Hermeneutika hingga Ideologi, Jakarta: Teraju, 2002

Islamia, Hermeneutika Versus Tafsir Al-Quran, Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam, Thn. 1, No. 1, Jakarta: Khairul Bayan,

Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik, Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1996

Muhammad Shahrur, Prinsip dan Dasar Hermeneutika Al-Quran Kontemporer, Yokyakarta: El Saq, 2004

Thameem Ushama, Methodologies of The Qur’anic Exegesis, Kuala Lumpur: A.S. Noordeen, Cet. 1, 1995

 

(Tulisan ini merupakan Paper Final  Mata Kuliah Metodologi Kajian Islam yang diasuh oleh Bapak Prof. Dr. Hasbi Amiruddin di Semester Satu Jurusan Ekonomi Islam PPS IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, September 2012 – Februari 2013)

Kata hermeneutik merupakan derivasi dari bahasa Yunani yang berasal dari akar kata hermeneuin, yang berarti menafsirkan. Namun hermeneutik sebagai seni menafsir mengharuskan adanya tiga komponen, yaitu teks, penafsir dan penyampaian kepada pendengar (pembaca/audience) yang wujud bersamaan. Yang lebih penting lagi, hermeneutik berperan menjelaskan teks seperti apa yang diinginkan oleh si pembuat teks tersebut. Persis seperti mitologi Yunani yang terdapat figure Hermes anak dari dewa Zeus dan Maia yang bertugas membawa pesan dewa Zeus kepada manusia. Peran ini mengadopsi kebutuhan kultural bagi menentukan makna, peran dan fungsi teks-teks kesusastraan yang berasal dari masyarakat Yunani kuno, khususnya epic-epik karya Homer. Tapi sebenarnya dibalik itu terdapat kepercayaan bahwa dalam perkataan manusia sekalipun mengandung inspirasi Tuhan (Devine inspiration). Kepercayaan seperti ini merupakan refleksi dari suatu pandangan hidup. Dari fungsi dan peran inilah hermeneutik mulai mendapatkan makna baru sebagai sains seni menafsir.

Meskipun interpretasi hermeneutis telah dipraktekkan dalam tradisi Yunani, namun istilah hermeneutik baru pertama kali ditemui dalam karya Plato (429-347SM) Politikos, Epinomis, Definitione, dan Timeus. Dalam Definitione Plato dengan jelas menyatakan hermeneutik artinya “menunjukkan sesuatu” yang tidak terbatas pada pernyataan, tapi meliputi bahasa secara umum, penterjemahan, interpretasi, dan juga gaya bahasa dan retorika. Sedangkan dalam Timaeus Plato menghubungkan hermeneutik dengan pemegang otoritas kebenaran, yaitu bahwa kebenaran hanya dapat dipahami oleh “Nabi”. Nabi di sini maksudnya adalah mediator antara para Dewa dengan manusia. Fungsi mediator inilah yang menghubungkan secara etimologis antara rumpun semantic hemeneus dan dewa perantara Hermes.
Secara istilah, hermeneutik berarti proses mengubah dari sesuatu atau situasi ketidak tahuan menjadi tahu dan mengerti. Sehingga hermeneutik juga didefinisikan dalam tiga hal: pertama, mengungkapkan pikiran seseorang dalam kata-kata; kedua, usaha mengalihkan dari suatu bahasa asing yang maknanya gelap tidak diketahui ke dalam bahasa lain yang bisa dimengerti oleh si pembaca; ketiga, pemindahan ungkapan pikiran yang kurang jelas diubah menjadi bentuk ungkapan yang lebih jelas.

Secara bertahap hermeneutik mengalami perubahan peran, tidak hanya terpaku pada persoalan teks yang diamati atau bahasa sebagai struktur dan makna, namun mulai mendeskripsikan penggunaan teks dalam seluruh realitas hidup manusia. Sehingga dalam perjalanannya muncul para filsof yang mendefinisikan cara kerja hermeneutik dengan berbagai penafsiran dan penekanan. Schleiermacher misalnya menggunakan hermeneutik untuk memahami orisinalitas arti dari sebuah teks, bahkan lebih dari itu, hermeneutik baginya adalah untuk memahami sebuah wacana bahkan bila perlu lebih baik dari si pengarangnya sendiri. Selanjutnya Ast yang memakai tiga pendekatan penelitian kepurbakalaan untuk mengetahui aspek historis, gramatikal dan spiritual dari teks, artepak maupun dokumen peninggalan sejarah lainnya.

Gadamer lebih jauh mengembangkan sesuatu yang baru dengan menekankan aspek kebahasaan (spachlichkeit). Dan ini dikritik oleh Habermas yang lebih fokus kepada diluar dari aspek kebahasaan yaitu hubungan individu atau masyarakat dan menggabungkan aspek teori dan praktek dalam satu wadah dengan rasio sebagai sumber inspirasi dan alat eksplorasinya. Tujuan sebenarnya adalah human interest (kesempurnaan manusia yang tak terbatas) di atas segala-galanya. Perkembangan terakhir hermeneutik terjadi pada masa poststrukturalis yang mengusung aspek relativitas melalui metodenya yang cukup controversial yaitu dekontruksi.

Hermeneutik dan Tafsir Al-Quran
Komaruddin Hidayat dalam bukunya Memahami Bahasa Agama menjelaskan Al-Quran sering digambarkan sebagai teks pembentuk (an-nashsh al mu’asis) yang darinya lahir demikian banyak teks tafsir (an-nashsh al tafsiri) sebagai hasil dari berbagai proses pemahaman terhadap teks induk Al-Quran yang kemudian dikenal dengan sentralisasi Al-Quran. Sentralisasi Al-Quran digambarkan sebagai sentripetal dan sentrifugal sekaligus. Dari sisi gerak sentrifugal teks-teks Al-Quran mendorong manusia untuk menafsirkan teks dari berbagai pendekatan dan pemahaman. Sedangkan dari sisi gerak sentripetal, manusia senantiasa ingin mengacu dan berpegang pada ide dasar dan inspirasi Al-Quran meskipun sekedar untuk tujuan justifikasi belaka. Kedua gerak ini membutuhkan pertemuan yang dapat menjembatani kesenjangan baik dari sisi tekstual maupun kontekstual untuk menjawab persoalan kekinian.

Hermeneutik Al-Quran muncul pada abad ke 18 yang ditandai penafsiran Al-Quran modern oleh Ahmad Khan, Amir Ali dan kemudian Muhammad Abduh yang corak tafsirnya menggunakan analisis sastra dan sosial. Pada tahun 1960an tema hermeneutik baru dikenal secara luas setelah Fazlur Rahman merumuskan hermeneutiknya dengan sangat sistematis melalui teori double movement (gerakan ganda). Semakin banyaknya penafsir yang menggunakan metode hermeneutik dalam menafsirkan teks Al-Quran disebabkan pandangan mereka terhadap beberapa hal berikut ini: pertama, dalam menafsirkan Al-Quran tidak ada metode ilmiah objektif, bagi mereka Al-Quran dapat diposisikan setara dengan teks karangan humanis lainnya seperti halnya para penafsir Barat menggunakan hermeneutik dalam menafsirkan teks Bible. Padahal jelas-jelas Al-Quran merupakan teks Ilahiyah yang transenden; kedua, adanya prakonsepsi terhadap sebuah masalah sebelum kajian dilakukan; dan ketiga, pemikir Islam cenderung memandang penafsir klasik tidak memanfaatkan konsep-konsep dalam filsafat humaniora melalui interaksi dengan teori-teori dasarnya ketika bersentuhan dengan teks Al-Quran padahal segala sesuatu yang dituangkan dalam Al-Quran tidak terlepas dari demi menjawab persoalan manusia, masyarakat dan fenomena alam semesta. Dari sinilah bermula urgensi terhadap metode hermeneutik menjadi usaha yang masiv dikalangan pemikir Islam kontemporer.

Kelebihan dan Kekurangan Hermeneutik
Belakangan ini ada kecendrungan di kalangan muslim modernis untuk menjadikan hermeneutik sebagai pengganti ilmu Tafsir Al-quran. Bahkan di sejumlah perguruan tinggi Islam di Indonesia, hermeneutik diajarkan sebagai salah satu mata kuliah khusus.
Memang dari sisi etimologi kata hemeneutik jelas bukan berasal dari tradisi pemikiran dan epistemology Islam. Ada kesan peniruan terhadap tradisi Kristen dan filsafat Barat yang sulit untuk dipungkiri. Alparslan Acikgence, seorang Profesor Study Islam dari Turky, dalam bukunya Islamic Science Towards Definition mengungkapkan bahwa Islam sebagai pandangan hidup merupakan bangunan konsep-konsep yang mewujud dalam kesatuan yang saling terkait, sehingga menurutnya suatu peradaban tidak dapat mengadopsi konsep-konsep asing kecuali setelah melalui proses “peminjaman” yang melibatkan perubahan aspek-aspek konseptualnya.

Hermeneutik dan Al-Quran saat ini justru disandingkan dengan tanpa kerikuhan konseptual, dalam artian hermeneutik diadopsi bukan oleh pakar-pakar tafsir Al-Quran, tapi oleh pakar filsafat, pakar bahasa Arab, dan diramaikan oleh cendekiawan yang tidak otoritatif di bidang tafsir dan ilmu-ilmu bantunya. Nampak jelas kesenjangan di sini, manakala kesamaan-kesamaan antara teks-teks Al-Quran, teks Bible dan teks teks lainnya seperti dipaksa-paksakan. Perbedaan-perbedaan dalam konsep makna, konsep interpretasi konsep otoritas, konsep kesejarahan dan lain-lain belum dikaji secara serius apalagi diubah (diadaptasi) dan ditransmisikan ke dalam kazanah konsep Islam.

Perbedaan lainnya yang menonjol terkait tafsir al-Quran dengan hermeneutik adalah secara konseptual, hermeneutik sendiri diadopsi oleh teolog Kristen dan dikembangkan oleh teolog Protestan liberal sangat khas dalam konteks Bible yang bermasalah baik dari sisi orisinalitasnya maupun masalah otoritas pemahaman teks bible yang sarat nuansa sola scriptura yang disebabkan oleh tradisi kependetaan (rabbanic tradition). Bahkan hingga kini makna dan konsep-konsep baru hermeneutik dilahirkan oleh milieu ilmiah (scientific environment) yang mulai meninggalkan pemikiran metafisis, yaitu pemikiran filsafat fenomenologi dan eksistensialisme, sehingga dapat dikatakan bahwa hermeneutika sama sekali tidak bebas nilai (value laden).

Dalam pernyataan di atas terdapat tiga implikasi penting yaitu: pertama universalitas hermeneutika sebagai metode masih merupakan tantangan, kedua, hermeneutik muncul dari suatu milleu ilmiah yang mulai meninggalkan pemikiran metafisis, ketiga hermeneutik yang berasal dari Yunani dan diadopsi oleh teolog Kristen dikembangkan menjadi teori sains kemanusiaan yang bertumpu hanya pada rasio dan berujung pada human interest.

Sehingga memaksakan Hermeneutik sebagai tafsir Al-Quran dalam pandangan sebagian pemikir Islam justru akan mengecilkan peran dan wawasan Al-Quran itu sendiri. Beberapa pandangan mufassir yang mendukung ini adalah: pertama, Allah lah yang memiliki otoritas dan pengarang dari Al-Quran itu sendiri, sehingga Al-Quran justru mengubah sejarah dan bukan malah dipengaruhi oleh sejarah; kedua, secara bahasa Al-Quran telah mengislamisasikan struktur-struktur konseptual, bidang-bidang semantic dan kosa kata khususnya istilah-istilah dan konsep-konsep kunci yang digunakan untuk memproyeksikan bukan pandangan Islam; ketiga, dari sisi geografis, antropologis, kultur dan sosiologis, para mufassir berpendapat penafsir dapat bersikap netral, karena Al-Quran juga bersikap netral sehingga para mufassirin tidak akan terjebak dengan latar belakang sosial dan budaya. Tafsir yang dilakukan akan melampaui budaya lokal.

Namun hermeneutik dapat tetap diadopsi sebagai salah satu variable penting yang mendukung komprehensifitas proses penafsiran teks Al-Quran berdasarkan karakteristik yang telah disebutkan di atas. Dimana arah kajiannya bergerak pada tiga wilayah: pertama, metode penafsiran, yakni tata kerja analisis yang digunakan dalam penafsiran, terdiri dari metode riwayah, pemikiran, dan interteks; kedua nuansa penafsiran, yaitu analisis yang menjadi nuansa atau mainstream yang terdapat dalam karya tafsir. Misalnya nuansa fiqh, sufi, bahasa, dan seterusnya; ketiga, pendekatan tafsir yaitu arah gerak yang dipakai dalam penafsiran. Dalam bagian ini, terdiri dari; pertama, pendekatan tekstual dimana gerak dari proses penafsiran cenderung berpusat pada teks. Sifatnya ke bawah: dari refleksi (teks) ke praksis (konteks); dan kedua, pendekatan kontekstual, yaitu arah gerak penafsiran yang lebih berpusat pada konteks sosio-historis dimana penafsir hidup dan berada, sifatnya cenderung ke atas: dari praksis (kontekstual) ke refleksi (teks).

Sehingga dengan demikian “peminjaman” hermeneutik dari konsep dasarnya seperti yang telah dikutip dari Alparslan dapat mengalami transformasi yang sempurna ketika bersentuhan dengan ranah metodologi tafsir yang berkembang sejak masa Rasulullah saw. Dalam hal ini hermeneutik memiliki peran kunci untuk menjembatani jarak antara teks dengan konteks saat ini tanpa perlu mengeliminasi corak dan pendekatan tafsir dalam metodologi tafsir klasik yang berperan sebagai variable pertama (sistematisasi tafsir) sehingga Al-Quran tetap memiliki dua sisi yang tidak saling melepaskan dalam menjawab tantangan zaman saat ini maupun di masa yang akan datang.

Daftar Bacaan:
Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qur’ani, Yokyakarta: Qalam, 2002
Islah Gusmian, Khazanah Tafsir Indonesia; dari Hermeneutika hingga Ideologi, Jakarta: Teraju, 2002
Islamia, Hermeneutika Versus Tafsir Al-Quran, Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam, Thn. 1, No. 1, Jakarta: Khairul Bayan,
Komaruddin Hidayat, Memahami bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik, Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1996
Muhammad Shahrur, Prinsip dan Dasar Hermeneutika Al-Quran Kontemporer, Yokyakarta: El Saq, 2004

Thameem Ushama, Methodologies of The Qur’anic Exegesis, Kuala Lumpur: A.S. Noordeen, Cet. 1, 1995

Ku pikir aku akan menuliskannya dalam bahasa Inggris, tapi sudahlah, daripada ga dapet intinya ya mending aku nulis bahasa indonesia saja. Hidup Indonesia!

Sudah agak lama tidak mengetik di blog ini, hanya meng-copy paste beberapa tulisan dan puisi-puisi yang terserak di berbagai tempat, sebut saja Facebook, Kompasiana dan file-file lama, soalnya sayang juga kalau tidak ditaruh di blog, takut kecarian entarnya.

2012 tinggal beberapa hari lagi berakhir. Ada aura udara lain seketika menyusup manakala sudah sampai tanggal 20an di bulan Desember. Ya sejak 2005 lalu tepatnya, aku pikir aura magis ini bukan aku saja yang merasakan tapi banyak dan banyak lagi orang- orang terutama para saksi hidup Tsunami delapan tahun silam yang masih mengingat dengan lekat peristiwa duka tersebut. Bukan maksudku membawa untuk bersedih, tapi sebenarnya aku teringat orang-orang yang kusayangi, keluargaku, beratus kilo jauhnya dari sini, dari Banda Aceh.

Kalau boleh jujur, aku tak percaya kalau aku selamat dari Tsunami itu. Masalahnya tempat kosku di Lhok Bangka, Rukoh Darussalam, sebuah kawasan gampong yang terletak di pinggir kampus IAIN Ar-Raniry tempatku menimbah ilmu Strata 1, diapit oleh sungai Lamnyong yang tak jauh dari muara laut. Hanya Asrama tingkat tiga milik Universitas Syiah Kuala yang berada tepat di seberang jalan depan kosku menjadi satu satunya harapan dimana kami orang-orang yg terlambat tahu kalau air naik spontan mengayuhkan langkah kaki, berlari, seperti dikejar syetan, dikejar maut.

Butuh kurang dari semenit untuk menyadari bahwa aku sudah berada di lantai tiga, dengan dua orang bocah kecil berada disamping kiri dan kanan seraya tangan mereka tak lepas dari genggamanku. Allah, yang kuingat saat itu adalah Bapak dan Mamak beserta abang dan adik-adikku. Terus terang setelah sekian tahun berpisah dari mereka karena perbedaan keyakinan baru kali itu aku benar-benar takut kehilangan mereka semua; takut tak bisa bertemu lagi, takut kalau aku tidak bisa mempersembahkan ijazah S1 ku kepada Bapak dan Mamak yang sebenarnya sudah sangat kurindukan, takut tak kesampaian bersimpuh di kaki mereka sambil memohon ampun atas keputusan yang sangat terpaksa kuambil demi menjaga hidayah Allah dan harga diri orang tua. Apalagi hari itu, 26 Desember 2004, bertepatan dengan Natal, dimana biasanya keluargaku berkumpul bersama dalam kebahagiaan. Lengkaplah sudah nelangsaku pada hari itu, hari yang mengharu biru dimana semua orang di Aceh tak akan mampu melupakannya. Aku hanya berpasrah pada Allah sepasrah-pasrahnya.

Dan hari ini, aku kembali dalam balutan aura magis itu, dalam kerinduan yang sama kepada kedua orang tua yang sangat aku sayangi. Aku ingin memeluk mereka dan bila Allah mengijinkan aku ingin merawat mereka, membahagiakan mereka di masa-masa tua mereka di saat ini.

Bapakku, Resman Simbolon, seorang laki-laki yang penuh dengan cerita perjuangan untuk keluar dari peta kemiskinan. Beliau hanyalah anak seorang petani dari Cinta Damai, Asahan, sebuah kampung yang pada masa dulu sangat jauh dari motivasi pendidikan. Demi bisa melanjutkan sekolah STM ke Siantar, dia rela mengikuti Ompung kami (Sebutan orang Batak untuk kakek laki-laki sebelah Bapak) untuk membuka berpetak-petak sawah. Dia rela tidak dikirimi uang dan bertahan demi bisa terus sekolah. Bahkan S1 Akuntansi-nya pun dilaluinya ketika aku dan keempat saudaraku yang lain telah menjadi kanak-kanak yang ceria. Aku mewarisi jiwa sekolah dari Bapakku.

Bapak selalu bilang, jika kita ingin menjadi orang yang sukses dan dihargai orang lain maka kita harus berpendidikan tinggi dan memberi solusi bagi banyak persoalan masyarakat. Bapak termasuk orang yang serba bisa. Hampir semua perabotan furniture di rumah mungil kami hasil karya tangan beliau. Aku tak yakin itu karena alasan menghemat uang, tapi yang pasti bapakku memiliki cita rasa selera seni yang cukup tinggi, ini terbukti dari setiap karya furniture buatan beliau meninggalkan ciri khas; tahan lama, klasik dan serba guna.

Aku ingin menangis rasanya jika mengingat Bapak dan cita-cita pendidikan yang beliau sematkan di pundakku. Meski saat ini aku sedang menempuh pendidikan Strata 2 di PPs IAIN Ar-Raniry konsentrasi Ekonomi Islam, tapi aku tahu aku tidak memenuhi harapan Bapak; menjadi seorang teknokrat Aerodinamika. Harapan yang kujanjikan dahulu ketika beliau melepas aku, putri harapannya untuk melanjutkan SMU di Jakarta agar lebih mudah menembus ITB, kampus impianku waktu itu. Allah memang menulis takdir yang lain di tanganku, meski aku sangat mencintai pelajaran berbau aerodinamika sampai detik ini.

Digurat-gurat wajahnya yang semakin menua, aku bisa melihat kekecewaan yang teramat dalam terhadap kami anak-anaknya. Barangkali aku lah penyebabnya. Karena kegagalanku memenuhi harapan bapak dan kekecewaannya atas pilihanku dalam hal keyakinan, Bapak dan Mamak berubah menjadi sangat protektif terhadap adik-adikku. Bahkan abangku juga menjadi sangat otoriter dalam membimbing adik-adik. Kalau aku mengingat keadaan keluargaku saat ini, hatiku hancur berkeping-keping. Aku tidak menyangka sepeninggalku, keluargaku betul-betul seperti kehilangan pegangan. Adikku Dohe, pergi meninggalkan pekerjaan yang telah ditekuninya selama 7 tahun di tempat usaha milik Pak Uda (Adik Bapak) demi mencari makna “kebebasan”, hingga kini dia masih berada di Medan Ile de France, luntang lantung tak karuan. Adikku Dodo, kabarnya juga telah mengikuti jejakku memeluk Islam, tapi prilakunya terdahulu;berjudi dan menghabiskan harta orang tuaku menjadikan dia tidak berani berterus terang kepadaku akan keIslamannya. Teman masa kecilnya mengabarkan kepadaku kalau dia telah menikah dengan dara Makasar dan memiliki seorang anak. Rasa bersalah telah membuat dia raib bagai ditelan bumi. Dia mengikuti caraku, sehingga Bapak dan Mamak yang hanya mendengar kabar burung tentang dia menduga bahwa aku mempengaruhi adikku untuk memeluk Islam. Lagi-lagi, aku lah di sini yang disalahkan oleh orang tuaku. Begitupun aku sangat bisa menerima karena ketidak fahaman mereka akan Islam yang sebenarnya.

Yang paling memilukan hatiku sebenarnya adalah keadaan abangku Donald, sosok yang semasa kecil sangat cemerlang tapi aku mendapatinya dalam keadaan hilang akal dan menyedihkan ketika aku, penghujung September 2010 lalu, pertama kali menjejakkan kaki di rumah kami di Perbaungan demi menyambung silahturahmi dan melepas rindu setelah sepuluh tahun lamanya aku terpisah dari keluargaku. Aku betul-betul patah..

Aku tidak tahu apa yang berlaku pada keluargaku selama perpisahan kami yang panjang. Aku tidak tahu pasti apa yang menyebabkan abangku menjadi kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Yang kusadari adalah sebegitu parahnya kerusakan yang terjadi selepas kepergianku. Dan aku yakin dari sorot mata Bapak dan Mamak, jauh di lubuk hati mereka, mereka menyalahkanku atas semua kejadian malang di keluarga kami. Meski Bapak dan Mamak telah memaafkanku di lisan mereka. Aku melihat beban yang luar biasa berat dipikul oleh Bapak dan Mamak di masa-masa tua mereka sekarang. Aku bisa merasakan dari desahan berat nafas mereka, dari tatap nanar dan keriput tangan mereka yang tak henti memilin duka. Waktu itu hanya doa yang spontan terucap dari lubuk hatiku yang terdalam “Ya Allah bimbinglah keluargaku kepada jalan cahaya. Orangtuaku adalah orang-orang baik dan hanya menginginkan kebaikan bagi kami anak-anaknya. Tuntunlah mereka kembali ke jalan cahaya. Kasihilah mereka, barangkali ini semua cobaan berat yang Kau berikan agar mereka kembali”

//

Tidak yang jauh tidak yang dekat

Pada kekosongan,kita mengisinya

dengan udara,

dengan warna,

dengan kenangan

dengan cita dan cinta

Tidak yang datang tidak yang pergi

Pada keheningan, kita menyimpannya

dengan hati,

dengan harapan,

dengan mimpi

dengan rindu dan kasih sayang

Bersama keluguan dan kebijaksanaan

bersama kegamangan dan keteguhan

bersama semangat dan keyakinan

Kita melalui kehidupan, mengarungi dan menikmati

meski yang jauh dan dekat silih berganti

meski yang datang dan pergi tak terperih

kita melaluinya dalam dekapan cinta Ilahi…

Selamat Mengarungi sisa hidup, Ibu..

Semoga yang kemarin menuai keberkahan

dan yang akan datang masih seperti mentari pagi yang gemilang…

//

flowers fall
the rain wall
scratched at times hundred feelings

in frozen crowded bazaar
broken night refuses star
being distant as always far
intimidated long faking war

trees and summers, tumble to slam
how could those kind thought without exams
for someway to leave any season
and a reason from many run

dare to faith, scare to death
rushing in honor while laughing fame
under surrounding sorrow and narrow
the future tomorrow still stand rare rate

see flowers fall
and the rain keeps wall
never know what in next on droll

a sad dream set, as a good one though
behalf to love, and reckless row
are you and me in one to show?

the only God, i sure follow…

(November rain |eleventh eleventh 2011 |04:42 pm |With all my heart…)